Tak pernah lupa diriku akan hal ini.
Aku masih ingat itu, senyuman hangat mereka yang senantiasa tersimpul di wajah mereka, salam lembut yang mereka ucapkan tiap berpapasan denganku, langkah kaki mereka menuju masjid pukul 4 subuh, rutinitas yang selaras sunnah Rasul, semua melekat erat di benakku. Keberadaan mereka membuatku merasa dilindungi, posisiku membuatku merasa menjadi adik kecil yang paling disayangi. “Lupakan saja, semua itu masa lalu.” Kata salah satu temanku. Tidak, batinku, dilupakan itu sakit dan aku tahu itu, aku benci menyakiti orang lain.
Aku sadar betul semua ini akan berlanjut selamanya. Mereka tak akan kembali, karena ini bukan tempat kembali. Mereka bukan milikku atau pun sebaliknya, semua anggapan ini semu. Egoku menuntut mereka untuk kembali ke sampingku, tapi akalku berkata “Mustahil.”
Hampir tenang diriku sampai 144 orang yang tak kukenal memasuki rumah keduaku ini. Seolah-olah ditarik paksa dari balutan selimut sutra seraya pundakku digantungi sebongkah batu. Aku tak pantas! Aku pun belum siap! Mau sampai kapan pun tak akan siap. Aku terlalu hina untuk memikul tanggung jawab ini. Aku terlalu biadab untuk ‘mereka’ lihat.
Berhari-hari aku tak berani menampakkan diriku ke luar sana. Warna-warna yang kumainkan di hari-hari itu mulai balik mempermainkan perasaanku. Didorong keberanian yang hampir luput, aku berjalan ke luar, tak sengaja bertemu ‘mereka’, aku hanya tersenyum dan mengucap salam, berpura-pura bersikap tegar. Malam hari kuketuk salah satu kamar ‘mereka’, aku duduk, masih dengan senyum yang sama, perkenalan singkat, kutatap wajah mereka satu per satu, berusaha untuk tidak melupakannya meski hanya seorang. Kusampaikan budaya-budaya yang diwariskan di ‘dunia kecil’ ini dengan gaya bahasaku yang biasa, berharap bisa menorehkan tinta emas di kertas yang putih bersih.
Ya Allah, tolong lah hamba-Mu yang lemah ini. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha semampuku. Tak ada alasan bagiku untuk mundur. Namun, bisa kulihat sejuta alasan bagiku untuk maju. Roda akan terus berputar, waktu akan terus mengalir, ritme hidup yang tak menentu akan terus mengalun, masa lalu akan terus ada untuk dipelajari, masa kini akan terus ada untuk dijalani, masa depan akan terus menunggu untuk diciptakan. Kutarik napas dalam-dalam, kuputuskan untuk terus maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar