Rabu, 13 Juli 2016

Bahtera Langit

Di atas bahtera ini kami saling merangkul satu sama lain, menjaga agar tak ada yang terlepas dan jatuh. Akan ada yang memiliki pijakan yang lebih kokoh dari yang lain, sepatutnya bagi yang memilki pijakan kokoh, kokoh merangkul yang goyah.

Awalnya kita hanyalah perahu-perahu kecil, dengan ego dan tujuannya masing-masing. Tapi waktu menambatkan kita satu sama lain, mengenalkan kita kepada arti kebersamaan, menebalkan garis identitas kita sebagai manusia, sebagai makhluk sosial. 

Setahun berlalu, tanggal sudah sepuluh. Bukan sekedar angka, melainkan sesosok potensi dan harapan. Ikhlas kami lepas, berharap ini adalah takdir-Nya yang akan menggiring mereka menjadi lebih baik. Namun, yang namanya takdir bisa diubah. Sesal sudah tiada arti, rangkulan yang awalnya kokoh perlahan terlepas, pijakan yang tak mapan terkelupas, menuju bahtera lain di lautan luas.

Sekarang yang ada adalah kita. Saatnya kembali menguatkan rangkulan, meyakinkan akan pijakan satu sama lain.

Kutatap langit biru, memandangi bumbungan kapas putih yang terapung, menerka kemana mereka akan pergi. 

Jumat, 01 Juli 2016

Sepenggal Sesal

Kata guruku... kata cinta bukan main-main. Kata yang begitu pasaran di kalangan remaja, begitu murah. Kata yang turun seribu derajat di tangan-tangan muda.

Ketika namanya dalam lisan maupun tulisan menjadi hormon adrenalin yang memaju degup jantungmu. Ketika suaranya yang memanggil namamu adalah mimpi terindahmu. Ketika senyumnya yang tersimpul menghentikan waktumu untuk sejenak, manis. Semua itu bukan cinta.

Entah rasa sayang, atau justru sekedar hawa nafsu?

Manusia sialan. Aku mengumpat pada diriku sendiri. Jangan pernah berharap, kata temanku. Sekarang aku percaya. Lupakan saja, kata temanku yang lain. Tidak, tidak mau. Lagi-lagi aku tak paham. Sesak napasku menghirup embun.

Jika memang ini semua memang hilir tinta pena-Nya, akan menghulu pula semua ini kepada-Nya.

Cermin yang Bersarang

Lagi-lagi, aku ingat, ingat.
Pertama kali aku menapakki kakiku di tempat ini.
Sekarang semuanya begitu rumit.
DNA virus-virus itu telah bersarang dalam tiap inti selku.

Baru kali ini aku bangga akan hal yang dahulu selalu kuremehkan. Bagai parasit, masa lalu harus dibuang jauh-jauh. Tapi petuah bijak 'sang kancil' di 'negara' baruku mengajarkanku untuk menghargai tiap-tiap apa yang pernah ada dalam hidupku. Diriku yang congkak dan bodoh pada masa itu adalah pemilik jemari yang pada malam ini menekan tuts keyboard yang berbaris rapi, tersendat untuk sejenak pada tiap kalimat.

Bukan sekedar tempat belajar. Seakan meraup setengah identitas diriku, mengisi setengah relung hidupku, mengisi setengah botol tinta pena-Nya. Enam tahun masa itu, ditambah tiga tahun setelahnya, aku baru merasa keberadaanku, pula keberadaan dunia ini beserta jutaan detak jantung di dalamnya.

Bukan sekedar tiga tahun yang akan kulewati, bukan tinggal dua tahun. Sang Kancil punya waktu kurang dari 730 hari untuk menyampaikan petuah bijaknya pada kerbau dungu. Lewat tiap pasang mata yang berlalu-lalang, lewat tumpukan kitab-kitab lama, lewat bumbungan awan-awan putih maupun sebaran bintang-bintang yang bernapas. Kerbau dungu sudah mulai berpikir. Menemukan logika mengapa tanduknya begitu tajam? Mengapa Sang Harimau tak juga berhenti menatapnya?

Bagaikan pabrik. Logam-logam terbaik dipilih dan diasah untuk dilepas di medan perang menjadi pedang-pedang yang terhunus tajam. Namun, tetap lembut bak kelopak sakura.

Aku tak pernah paham lukisan Bapak Salvador Dali, apalagi apa yang kurasa selama ini. Hanya bisa kutuangkan dalam rangkaian konotasi. Tapi aku rasa ini cukup. Mungkin akan berlanjut.

Senin, 27 Juni 2016

Sandaran Semu

Tak pernah lupa diriku akan hal ini.

Aku masih ingat itu, senyuman hangat mereka yang senantiasa tersimpul di wajah mereka, salam lembut yang mereka ucapkan tiap berpapasan denganku, langkah kaki mereka menuju masjid pukul 4 subuh, rutinitas yang selaras sunnah Rasul, semua melekat erat di benakku. Keberadaan mereka membuatku merasa dilindungi, posisiku membuatku merasa menjadi adik kecil yang paling disayangi. “Lupakan saja, semua itu masa lalu.” Kata salah satu temanku. Tidak, batinku, dilupakan itu sakit dan aku tahu itu, aku benci menyakiti orang lain.

Aku sadar betul semua ini akan berlanjut selamanya. Mereka tak akan kembali, karena ini bukan tempat kembali. Mereka bukan milikku atau pun sebaliknya, semua anggapan ini semu. Egoku menuntut mereka untuk kembali ke sampingku, tapi akalku berkata “Mustahil.”
Hampir tenang diriku sampai 144 orang yang tak kukenal memasuki rumah keduaku ini. Seolah-olah ditarik paksa dari balutan selimut sutra seraya pundakku digantungi sebongkah batu. Aku tak pantas! Aku pun belum siap! Mau sampai kapan pun tak akan siap. Aku terlalu hina untuk memikul tanggung jawab ini. Aku terlalu biadab untuk ‘mereka’ lihat.  

Berhari-hari aku tak berani menampakkan diriku ke luar sana. Warna-warna yang kumainkan di hari-hari itu mulai balik mempermainkan perasaanku.  Didorong keberanian yang hampir luput, aku berjalan ke luar, tak sengaja bertemu ‘mereka’, aku hanya tersenyum dan mengucap salam, berpura-pura bersikap tegar. Malam hari kuketuk salah satu kamar ‘mereka’, aku duduk, masih dengan senyum yang sama, perkenalan singkat, kutatap wajah mereka satu per satu, berusaha untuk tidak melupakannya meski hanya seorang. Kusampaikan budaya-budaya yang diwariskan di ‘dunia kecil’ ini dengan gaya bahasaku yang biasa, berharap bisa menorehkan tinta emas di kertas yang putih bersih.

Ya Allah, tolong lah hamba-Mu yang lemah ini. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha semampuku. Tak ada alasan bagiku untuk mundur. Namun, bisa kulihat sejuta alasan bagiku untuk maju. Roda akan terus berputar, waktu akan terus mengalir, ritme hidup yang tak menentu akan terus mengalun, masa lalu akan terus ada untuk dipelajari, masa kini akan terus ada untuk dijalani, masa depan akan terus menunggu untuk diciptakan. Kutarik napas dalam-dalam, kuputuskan untuk terus maju.