Jumat, 01 Juli 2016

Cermin yang Bersarang

Lagi-lagi, aku ingat, ingat.
Pertama kali aku menapakki kakiku di tempat ini.
Sekarang semuanya begitu rumit.
DNA virus-virus itu telah bersarang dalam tiap inti selku.

Baru kali ini aku bangga akan hal yang dahulu selalu kuremehkan. Bagai parasit, masa lalu harus dibuang jauh-jauh. Tapi petuah bijak 'sang kancil' di 'negara' baruku mengajarkanku untuk menghargai tiap-tiap apa yang pernah ada dalam hidupku. Diriku yang congkak dan bodoh pada masa itu adalah pemilik jemari yang pada malam ini menekan tuts keyboard yang berbaris rapi, tersendat untuk sejenak pada tiap kalimat.

Bukan sekedar tempat belajar. Seakan meraup setengah identitas diriku, mengisi setengah relung hidupku, mengisi setengah botol tinta pena-Nya. Enam tahun masa itu, ditambah tiga tahun setelahnya, aku baru merasa keberadaanku, pula keberadaan dunia ini beserta jutaan detak jantung di dalamnya.

Bukan sekedar tiga tahun yang akan kulewati, bukan tinggal dua tahun. Sang Kancil punya waktu kurang dari 730 hari untuk menyampaikan petuah bijaknya pada kerbau dungu. Lewat tiap pasang mata yang berlalu-lalang, lewat tumpukan kitab-kitab lama, lewat bumbungan awan-awan putih maupun sebaran bintang-bintang yang bernapas. Kerbau dungu sudah mulai berpikir. Menemukan logika mengapa tanduknya begitu tajam? Mengapa Sang Harimau tak juga berhenti menatapnya?

Bagaikan pabrik. Logam-logam terbaik dipilih dan diasah untuk dilepas di medan perang menjadi pedang-pedang yang terhunus tajam. Namun, tetap lembut bak kelopak sakura.

Aku tak pernah paham lukisan Bapak Salvador Dali, apalagi apa yang kurasa selama ini. Hanya bisa kutuangkan dalam rangkaian konotasi. Tapi aku rasa ini cukup. Mungkin akan berlanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar